Monday, 11 December 2017

Strings and binding

Believe it or not, I'm not glorifying the act of suicide. Saya tidak akan menyebutnya perilaku heroik, atau istilah-istilah menggelora lain, namun mengatai orang-orang bunuh diri (yang tidak seenaknya mengajak-ajak orang lain) 'Pengecut', 'Pecundang', atau 'Bisanya lari dari kenyataan' pun tidak terasa benar. If I must put my thoughts in words, then I think both staying alive and taking your own life require equally a huge amount of courage. Both staying alive and choosing death are difficult choices with unknown consequences. You never know what will happen next; what tomorrow brings, what kind of things are waiting for you in the afterlife in case it really exists. The only difference is that other (living) people may still see how you end up be―better or worse―if you're alive. Either way, both options come with uncertainty and immense pain.

Mungkin bagi beberapa orang, sakit yang dirasakan ketika mengakhiri hidup sendiri jauh lebih baik dibandingkan rasa sakit yang diderita saat hidup. Dibandingkan ketakutan dan kecemasan menghadapi hari esok. Dibandingkan disiksa keputusasaan yang kerap datang berkunjung. Dibandingkan digerogoti rasa tak berdaya, tak bermakna, tak berguna, tak punya tempat keberadaan. Sebab tidak semua orang bisa dengan lantang dan berapi-api mengatakan, "Hiduplah untuk dirimu sendiri!"

Every night and morning I count things acting as 'strings' binding me to this world; people I still want to meet (even if many of them don't want to see me or they are simply out of reach), books I haven't read, ongoing TV or manga series I haven't known the ending yet, weekly-updated variety shows of my favorite groups, upcoming concerts I haven't gone to...

"I want to go somewhere with mom and sis on Christmas holiday."
"The guest star for next week's VS Arashi is Higashide Masahiro I have to watch it."
"When will Nozaki dan Chiyo be a couple there's no way I won't witness it happen!"
"Yakusoku no Neverland latest chapter is sooooo cliffhanger what will happen to Emma I NEED TO KNOW."
"That person said it's OK to watch a movie together this Friday."
"It's one month away from ONE OK ROCK Ambitions Live in Singapore and I bought the ticket already. I. Must. Go."
"The cat food I ordered from Tokopedia hasn't arrived..."
"I want to see that person again."

Silly, I know. Yet, they are my 'strings'. My binding. So that I can sleep and wake up and slap my cheeks as I look at my own reflection on the mirror, saying, "One more day. One more week. One more month". Perhaps those people who eventually commit suicide are unable to find any string giving them reasons to live, or they just doesn't seem important anymore. And as devastating as it is, it feels.. completely human. Frankly speaking, there is always a possibility that the day when those things won't matter much to me may come, too. 

But at least, for now, they work.

Oh iya, hampir lupa. Box set Fullmetal Alchemist terbitan Viz Media yang saya idam-idamkan sejak masih kuliah juga belum terbeli. Sepertinya masih perlu pasang kalender 2018 di kamar.

z. d. imama

Monday, 4 December 2017

Sorry 'Kimi no Na wa' but you have to admit defeat to 'Koe no Katachi'

Akhir pekan lalu saya menulis tweet yang isinya persis seperti judul tulisan ini, dan ternyata cukup memancing perdebatan dari beberapa orang yang tidak setuju Kimi no Na wa (alias Your Name, film animasi blockbuster Jepang yang saking hebohnya sampai mau dibuatkan versi Hollywood) saya anggap 'kalah' dari Koe no Katachi (judul internasional: A Silent Voice) film animasi lain yang rilis di periode tahun yang sama dan juga sangat well-received dan highly-praised. Bahkan sutradara Kimi no Na wa sendiri, Shinkai Makoto, memberikan apresiasi sangat positif terhadap Koe no Katachi melalui akun Twitter pribadinya.

Begini tulisan lengkap saya di Twitter:

"Sorry Kimi no Na wa, but you have to admit defeat to Koe no Katachi. Kimi no Na wa is good, with a touch of cultural beliefs, sci-fi and supernatural aspect and all that stuff but Koe no Katachi is far more emotionally resonant. For some people, the aftermath thought post-watching Koe no Katachi is, "Maybe it's okay for me to live" and it's not something you get after watching the other movie."

The first complain-slash-question came to me was, "Is it fair to compare those two when Koe no Katachi is more 'realistic' and Kimi no Na wa is a supernatural story?" and first of all I'd like to say that it's totally fair. Both are coming-of-age stories (and Kimi no Na Wa is not exactly a supernatural tale; it just has that aspect in its plot) with top-class writing and execution. That first question was followed with, "If you prefer something over another because it makes you more emotional and you say it's the best then your judgment is biased".

Alright. The reason I put Koe no Katachi above Kimi no Na wa, and why the first movie feels more personally important to me, is not simply because it makes me 'cry more'. The emotional bonding comes from how far I can relate to the characters, the familiarity of the situation they are facing, how the movie feels like it directly speaks to me. What causes Koe no Katachi to win my heart and judgment as the better piece is the intensity and depth of experience it gives me as I witness every rolling scene; with Kimi no Na wa, I feel like I'm being told an awesome story―but with Koe no Katachi, it's more like I am in the story. When a work manages to resonate deep inside you and becomes so much meaningful, isn't it the most important thing? The art of filmmaking bears no resemblance with that of science or mathematics. Biased or not, personal review will always consider how much you're emotionally engaged with works in discussion. Otherwise, you only will be talking about technical stuffs or stats. And honestly, why should I care about such coldhearted review?

Human relationship is a messy thing, and Koe no Katachi portrays it very, very well. Ishida Shouya, the protagonist who lives with the shadow of his past mistakes haunting him and attacking relentlessly like a bad Karma, struggles to find his place in this world, to repent every wrongdoing he has done, and to rebuild whatever he has destroyed. It's all connected to a girl with hearing disability named Nishimiya Shouko, who was once his classmate during sixth grade of elementary school. Each scene since the first five minutes feels like a stab piercing my heart―how easy it is for somebody to be misunderstood, the hurdles someone must go through just to convey their feelings and thoughts to another person, how cruel, unsympathetic, and ignorant kids can sometimes be, also how forgiveness may come in various forms. Somehow, I can see a part of me, or people I know―no matter how tiny that part is―in every character. They are so human it's almost a painful reminder. 

Koe no Katachi is not an ambitious movie. What makes it more precious to me, if it's even possible, is that Koe no Katachi acknowledges that sometimes, a person can't live only for him/herself. There are those who need other people as reasons to be alive. There are times when you can only keep going because someone else's existence becomes your motivation. And that is completely alright. 

Saya tidak keberatan jika ada yang merasa Kimi no Na wa lebih baik, atau mengatakan Koe no Katachi overhyped, hingga membosankan. Namun bagi saya, Koe no Katachi adalah sebuah film yang sangat penting―dan perlu diingat bahwa tidak sekalipun saya mengatakan Kimi no Na wa jelek atau tidak layak digemari. It is not exactly a 'fun watch', I must admit, not when it keeps my throat dry and chest heavy with burdening feelings for nearly the whole 130 minutes. Nonetheless, Koe no Katachi pulls, absorbs, drags me in and refuses to let go. If this is called 'biased judgment' anyway, then I will go ahead and earnestly call this piece an excellent achievement in modern Japanese animation.

Sorry, Kimi no Na wa. You are now officially dethroned.

z. d. imama

Saturday, 25 November 2017

The 1000 Dollars Saving Project

Sebagai millennials kere yang tidak punya uang apalagi aset (ini salah siapa sih sebetulnya?), menghidupi diri sendiri masih compang-camping, dan terlalu banyak impian-impian tak tergapai, hidup saya hampir setiap hari berada dalam survival mode. Apalagi sehabis gajian kemarin langsung kalap beli tiket konser ONE OK ROCK Ambitions Live in Singapore 2018 karena terbutakan oleh cinta, maka survival plan bulan ini secara otomatis jadi lebih gruesome dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Imajinasi kanak-kanak saya untuk hidup kaya-raya makin terasa fiktif. Bahkan untuk bisa bersenang-senang, saya harus disiplin dalam menerapkan aturan bagaimana cara berfoya-foya jika tak punya uang.

Ketika sedang iseng-iseng menggeledah internet dan portal-portal berita internasional, saya terdampar pada sebuah artikel Go Banking Rates yang mengatakan bahwa banyak penduduk Amerika saat ini yang tidak memiliki uang seribu dolar di rekeningnya. Ada juga yang nggak punya tabungan sama sekali. Survei tersebut dilakukan kepada 5,000 orang partisipan (ya nggak banyak sih dibandingkan jumlah penduduk asli Amerika), dan hasilnya adalah sebanyak 69% dari mereka fakir simpanan dana.

Me too, guys. Me too.

Sumber gambar masih dari artikel yang sama.

Berhubung saya tipe-tipe orang yang suka kompetitif untuk hal-hal yang nganeh-nganehi, membaca hasil survei tersebut cukup bikin saya terpelatuk. Ya habis gimana? Saya kan menyerupai 34% persen masyarakat peserta survei yang tidak memiliki simpanan uang di rekening mereka. Ikut tertohok dong. Huks. Saya pun memutuskan bikin proyek: nabung seribu dolar! Jika berdasar kurs satu dolar = tiga belas ribu rupiah, maka target tabungan saya adalah tiga belas juta rupiah. Nominal totalnya remeh banget anjir. Tapi saya bahkan tidak bisa mengira-ngira kapan tercapainya jumlah yang saya cita-citakan. Wakaka. Dasar milenial bokek.

Tidak apa-apa. Walau rasanya target masih nun jauh di antah berantah, rencana ini akan tetap saya laksanakan. Saya nggak akan kalah sama warga negara adidaya yang bisa-bisanya milih Donald Trump sebagai presiden. Lihat saja nanti. Kelak, saya akan punya duit simpanan senilai seribu dolar Amerika! *mengepalkan telapak tangan*

z. d. imama

Saturday, 18 November 2017

Recommendation Olympics: Shounen Manga I Just Can't Forget

Barangkali jika mendengar istilah 'shounen manga', yang pertama kali terpikir di benak banyak orang adalah judul-judul blockbuster dengan jumlah episode sepanjang jalan kenangan seperti Naruto, One Piece, Bleach, hingga Meitantei Conan. Nggak salah juga sih. Target pembaca shounen manga, sebagaimana namanya, memang rata-rata adalah anak laki-laki dari usia 8-9 hingga 18 tahun (meski pada kenyataan luber ke berbagai jenjang usia dan bahkan merembet hingga anak-anak perempuan―saya termasuk salah satunya). Jumlah shounen manga mungkin ada puluhan ribu, sedangkan pengetahuan yang saya punya tentang itu sangat terbatas. Jadi walau judul postingannya adalah Recommendation Olympics, saya tidak akan mengatakan komik yang nantinya disebutkan sebagai 'rekomendasi' tersendiri dari lautan shounen manga yang pernah ada. Saya cuma akan berbagi sedikit judul yang saya sulit lupakan jalan ceritanya, atau punya kenangan tertentu saat membacanya (or stuck with it and can't escape no matter how hard I try). Sehingga bukan berarti apa yang tidak saya masukkan ke daftar pendek ini jelek. Sama sekali bukan.

Jadi, sudah bisa saya mulai kan ya? Sudah dong.

10. Meitantei Conan - Gosho Aoyama

I don't know why I'm doing this to myself. I don't know why didn't stop this torture already. Meitantei Conan―atau Detektif Conan―rasanya seperti komitmen yang tidak bisa saya bubarkan, entah kenapa. This feels like a marriage I don't remember when exactly I did say "Yes". Saya memang pernah sangat menyukai dia, mengabaikan betapa Gosho Aoyama tidak pernah mampu memutuskan hendak menjadikan Detektif Conan sebuah serial dengan fokus pada plot besar atau hanya case-by-case seperti serial Kindaichi Shounen no Jikenbo. Akhirnya, sebagaimana racauan dan tumpahan frustrasi yang sudah pernah saya tumpahkan di tulisan blog sebelah sini, kesetiaan saya dengan Detektif Conan kini bermodalkan 85% harga diri dan 15% rasa kepalang tanggung.

9. One-Punch Man - Murata Yusuke & ONE

Satu-satunya alasan kenapa serial ini sangat meninggalkan kesan di hati saya yaa... karena ketimpangan yang menganga antara kualitas gambar dengan tingkat keseriusan kisah. Untuk artwork sekeren ini, jalan cerita One-Punch Man terlalu ngasal dan sesuka hati. Mengenai seorang mas-mas bernama Saitama yang memutuskan untuk bekerja full-time sebagai superhero karena hobi, dan akibat saking giatnya berlatih, dia menjadi terlalu kuat. Bikin gemes. Apalagi di volume ke.. tujuh apa ya? Ada empat halaman full-spread (yang artinya delapan halaman portrait) khusus untuk melukiskan secara ekstra-detil sebuah ledakan hebat akibat tinju Saitama. Terserah Murata Yusuke-sensei sajalah. Bodo amat.

8. Tsubasa Reservoir Chronicle - CLAMP

This series is so pretty and filled full with fanservices, in the sense of nostalgic feelings. Berlindung di balik "perbedaan dimensi semesta", CLAMP memasukkan berbagai karakter dan unsur dari seluruh karya-karya sebelumnya ke dalam Tsubasa Reservoir Chronicle. Jujur, saya menduga bahwa sebenarnya mereka cuma males merancang karakter baru. Bahkan protagonis dalam kisah ini pun bukan karakter asing, melainkan mengimpor dari blockbuster series CLAMP tahun 1997, Card Captor Sakura. Tapi bagaimanapun juga, saya akui artwork CLAMP masih tetap secantik biasanya. Format dunia paralel pun menghadirkan angin segar yang lumayan menghibur meski saya sama sekali nggak paham apa yang terjadi dengan plot cerita selepas volume 15―dari total 28 jilid buku―, dan saya juga menyimpan kecurigaan kalau CLAMP nggak terlalu ngerti apa yang ingin mereka sampaikan.  

7. xxxHOLiC - CLAMP

Complementary series untuk Tsubasa Reservoir Chronicles. Dua serial ini berjalan di dimensi, atau dunia, yang berbeda namun saling berkaitan. Mbuh banget, kan. Mengisahkan Watanuki Kimihiro, seorang pelajar SMA yang bisa menyaksikan makhluk-makhluk yang umumnya tidak tampak, dan sudah lelah dengan kemampuan ekstra itu. Dia pun meminta bantuan pada pemilik toko misterius bernama Ichihara Yuuko yang menyanggupi permohonan Watanuki, dengan syarat Watanuki harus bekerja paruh waktu di toko tersebut sebagai bayaran untuk membantu menghilangkan 'penglihatan' istimewanya. Plus points: pretty arts, quirky style, much simpler plot―and less ambitious one―compared to Tsubasa Reservoir Chronicles. CLAMP berhasil melukiskan cerita mengenai dunia supranatural tanpa kesan horor berlebihan. And that is great.

6. Kindaichi Shounen no Jikenbo - Kanari Yozaburo & Sato Fumiya

"...Aku pasti akan mengungkap kasus ini, dengan mempertaruhkan nama besar kakekku!" 

Ciye. Saya mau snobbish sedikit, ya. Serial Kindaichi yang paling saya sukai adalah 27 volume awal, ketika belum ditambahi embel-embel "Returns" atau "R" atau "Special Case" di bagian belakang judul. Pokoknya masa-masa si Kindaichi-nya masih digambarkan gempal, bantet, dan tidak tampan. Sewaktu kasus demi kasus berdatangan satu per satu bagai episode Doraemon, lah. Hingga kemudian Yoichi Takato muncul di volume-volume akhir dan menggegerkan dunia persilatan, lalu melahirkan sekuel-sekuel serial yang berlanjut sampai sekarang, berkali-kali memuat cerita kucing-kucingan antara Yoichi dan Kindaichi yang tak kunjung bubar. But that aside, aspek yang menyebabkan saya tidak bisa melupakan Kindaichi Shounen no Jikenbo adalah penggambaran TKP pembunuhan, pengungkapan trik, serta bagaimana sebuah legenda-legenda setempat ditampilkan untuk jadi kambing hitam rencana kriminal. Kasus perdana yang meminjam kisah Phantom of the Opera saja sudah sukses bikin saya susah tidur bermalam-malam. Serem banget anjir.

5. H2 - Adachi Mitsuru

Perkenalan pertama saya dengan Adachi Mitsuru-sensei adalah lewat serial ini. Saya terus terang tidak terlalu menyukai genre sports manga―walaupun cukup banyak judul yang pernah dibaca―karena keluhan yang sama: kalau bukan jalan cerita yang terlalu diburu-buru kayak lagi dikejar rentenir, ya justru nggambleh dan terasa dipanjang-panjangin banget gara-gara popularitas tinggi. H2, secara mengejutkan, sungguh berhasil membuat saya (yang sama sekali tidak mengerti baseball ini) tenggelam dalam alurnya yang relatively slow-paced tetapi tidak lagging atau dragging. Kayak hidup aja, gitu. Panel-panel yang sepintas tampak sepele ternyata berperan dalam menjaga konsistensi nuansa dan pergerakan kisah. Belum lagi drama coming-of-age yang dialami tokoh-tokohnya. Aduh mak. Nggak kuat.

Cuma sayangnya, Adachi Mitsuru-sensei tampak kedodoran dalam membuat karakter dengan penampilan yang distinctive satu sama lain. Seumpama tokoh-tokoh buatannya dari berbagai serial dikumpulkan dalam selembar ilustrasi, saya sudah nggak akan bisa mengenali siapa yang mana. Mukanya sama semua, men.

4. SKET DANCE - Shinohara Kenta

I love this series to the moon and back. Anggap saja SKET DANCE adalah serial Gintama versi anak sekolahan (komikusnya, Shinohara Kenta-sensei, pun mengakui terinspirasi dari Gintama karena sebelumnya dia pernah bekerja sebagai asisten Sorachi Hideaki-sensei). Cerita berfokus pada klub volunteer/helper jack-of-all-trades yang digawangi oleh Fujisaki "Bossun" Yuusuke selaku ketua klub, Onizuka "Himeko" Hime (juga terkenal sebagai "Onihime" alias Putri Setan), dan wibu otaku berkacamata Usui "Switch" Kazuyoshi. Traits masing-masing karakter yang khas satu sama lain serta interaksinya benar-benar menyenangkan untuk diikuti. Saya juga sangat menyukai betapa serial ini tidak sekadar happy-go-lucky namun juga memberikan setiap tokoh panggung tersendiri untuk memiliki backstory yang diungkap pelan-pelan, serta perkembangan kepribadian yang tumbuh sepanjang 288 bab, 32 jilid buku.

SKET DANCE sudah diterbitkan di Indonesia oleh Elex Media Komputindo. Sekarang saya sedang dalam usaha mengumpulkan seluruh serinya. Rilisan terakhir masih volume belasan, belum jauh-jauh amat jika ingin mengejar ketinggalan. Wellthis is the least we can do to show support for the artists, isn't it?

3. Chrno Chrusade - Moriyama Daisuke

Whatever you say, Chrno Crusade is my forever love. This series, shounen as it be, was the first one to successfully rip my heart apart. I relate to the female protagonist, Rosette Christopher, to a spiritual level.  Meski ceritanya tamat hanya dalam delapan jilid, perjalanan Rosette yang membuat kontrak dengan iblis bernama Chrno untuk mencari dan menyelamatkan adik laki-lakinya, Joshua, yang diculik iblis lain meninggalkan kesan sangat kuat dalam diri saya. Ya ampun setiap kali inget Chrno Crusade tuh bawaannya baper terus kepengin baca ulang kemudian jadi lebih baper lagi setelah baca. Nggak tertolong, lah.

Agak sulit menerima kenyataan bahwa Chrno Crusade adalah komik debut Moriyama Daisuke-sensei. How he crafted the story, connected it into some particular historical events, how he built up the conflicts or inserted additional characters here and there... everything felt so good nothing was out of place. Even the ending felt perfect, even if it didn't exactly fit into 'happy' category. Kok bisa sih bikin cerita sesolid ini?? *jambak-jambak rambut sendiri*

2. Yakusoku no Neverland - Shirai Kaiu & Demizu Posuka

Ini dia. Satu lagi serial yang paling jago bikin saya galau menanti rilisan bab lanjutannya selain Akatsuki no Yona. Terbilang masih baru (bab satu dirilis pertengahan tahun 2016 di Weekly Shounen JUMP), Yakusoku no Neverland langsung sukses menjadi sebuah serial yang sangat saya nantikan perkembangannya. Tidak hanya itu, sebisa mungkin saya berusaha mencetak downline―alias berupaya menghasut orang-orang yang belum mengenal komik ini agar ikut coba-coba membaca juga. Premis Yakusoku no Neverland sederhana (versi tanpa spoiler sama sekali): sekelompok anak-anak hidup bahagia di panti asuhan Grace Field House, hingga suatu hari dua orang anak tertua, Emma dan Norman, mengetahui bahwa sebenarnya tempat yang mereka tinggali bukanlah panti asuhan biasa dan berusaha menyusun rencana untuk kabur dari sana bersama seluruh 'adik-adik'nya.

Yakusoku no Neverland berhasil membuat saya sayang setengah mati dengan anak-anak yang hidup di panti asuhan Grace Field House. Rasanya hasrat untuk memeluk Emma, Norman, Ray, Phil, dan belasan bocah lainnya tuh kuat banget. Apalagi saya memang pada dasarnya bakat baperan sejak lahir jika menyangkut kisah fiksi.

1. Hagane no Renkinjutsushi - Arakawa Hiromu.

Alias Full Metal Alchemist. You guys see this coming, I bet. This series has everything I need. And it comes with Colonel Roy Mustang and First Lieutenant Riza Hawkeye for the cherries on top. Pokoknya jika sudah menyangkut dua orang itu saya mah pasrah. OTP nomor wahid. But on a more serious topic, Hagane no Renkinjutsushi manages to wrap up complex topic and philosophical theme into something interesting that is easier to understand. It tells a lot about ambitions, consequences, trauma, atonement for past mistakes, and 'greater good'. Saya yakin sangat mudah bagi kalian untuk mengerti bahwa tokoh favorit saya dalam serial ini adalah Roy Mustang. Andaikan mas Mustang nyapres buat Indonesia, kemungkinan besar saya bakal langsung mengajukan diri untuk masuk di tim suksesnya. Apapun akan saya lakukan. Perjuanganku hanya untukmu, mz.

Bagi kalian sendiri, adakah judul-judul komik yang nggak terlupakan? Bisa dituliskan di kolom komentar supaya bisa saling berbagi. Lalu, jika ingin menengok episode #RecommendationOlympics sebelumnya yang membahas shoujo manga, silakan klik sebelah sini.

z. d. imama

Friday, 17 November 2017

The Beautiful, Perfect Crap.

My thumb moved slowly. Scroll. Scroll. Scroll. Oh, that dude updated his blog. Scroll. Scroll. Scroll. Hey, that person posted new status. I see. Well, there's that again. It's not only once or twice did I see someone said―or wrote―on the internet: "I love you even if I don't know you". I wonder how do we supposed to read that? That sentence does look pretty, I admit, at least pretty enough to the point where somebody could just copy and paste it on Hallmark's cards. And oh I bet that feels good for the speaker's side, too. But I never stop questioning the sincerity behind such lines. 

"How can?"

Some people may feel that they are not loved by anyone―including themselves―for some reasons. Some people may only be able to love other people―their friends, their acquaintances, their family, but not themselves. It's a rather complicated feeling. And it's damn hell frustrating. Especially when everyone around you keep saying, "Love yourself just the way you are" while you don't even know which part of you are good enough to be liked. So you hate yourself even more. Because you know you've failed this 'simple' thing. You feel unloved and useless. And suddenly somebody told you (or you read it as a post on the internet), "I love you even though I don't know you". Aww...

That's so beautiful. 

And what a totally perfect crap to say.

I do believe we can only like (and love) people we know. The meetings may come in different ways: there are people we know from actual meetups, there are those whom we know from TV series, variety shows, movies, social media platforms, music releases, and other things. Well, I think it's even safe to say that it's possible for us to love fictional characters we find in various works. We come to know them, or at least we think we know something about them. And that's why we like them. That's why we  are able to love them. Sure it doesn't necessarily mean we like or love everyone we know, but for the ones we end up favoring, we definitely feel familiarity to some extent. 

That is why someone can fall in love with people who don't even know they exist―it's the gap, the disparity in knowledge and sense of familiarity between both parties. Like, you know, famous people may feel thankful towards and care about their fans who made them popular in general, but as an individual being, our life do not really affect theirs. It's possible for us to love people who do not know about us at all, but to love someone we don't know feels... so far-fetched.

Hence I think this whole "I love you even if I don't know you" is bogus. 

When spoken and told, I can't help but wonder whose sake is that sentence for. Is it to make the speaker feel better about themselves? To make them think they have done 'something helpful', 'spread the love' kind of stuff? Because acting nice, being helpful and kind to other people doesn't always equal liking, let alone loving, them.

z. d. imama

Friday, 10 November 2017

"Rikuou" review: hardwork and (over)work

"Review melulu anjer. Katanya whiny blogger?" Demikian pikir saya saat membuat tulisan ini. Tapi bisa apa? Hasrat untuk nyerocos tentang film dan serial yang sedang ditonton membuncah tanpa terkendali, padahal channel yang tersedia cuma blog ini. Ya sudah. Tampaknya apabila mempertimbangkan jumlah film dan serial Yapan di blog pribadi, saya lama-lama bisa dapat sertifikasi sendiri. Wibu certified, gitu.

Kali ini saya mau bahas salah satu drama yang sedang tayang: Rikuou. Penulisan huruf kanji judul drama tersebut berarti "The King of Land". Diadaptasi dari novel tulisan seorang mantan pegawai bank, Ikeido Jun, Rikuou terbilang lumayan diantisipasi. Barangkali sama seperti waktu warga Indonesia menantikan adaptasi novel Supernova karya Dee Lestari ke layar lebar, meski ternyata filmnya mak plekethis koyo ngono thok. Sebagai bekas pengabdi korporat (I deliberately avoid using that 'budak' word; nanti kena omel netizen), novel-novel Ikeido Jun banyak berkutat tentang korporasi dan human dynamics di sana. Salah satu karya yang terbilang sangat populer dan sudah pernah diangkat ke layar televisi adalah Hanzawa Naoki (2013), tentang seorang pegawai bank raksasa yang kena fitnah, lalu berupaya membersihkan namanya. Episode terakhir Hanzawa Naoki, saking ngehits, meraih rating lebih dari 40% (area Kanto saja). Di zaman orang-orang mulai asyik YouTube-an, streaming, dan segala aktivitas dunia maya, bisa dapat viewership di atas 40% tuh semacam legenda.

Jadi, Rikuou bagaimana?

Premis Rikuou tidak aneh-aneh. Tema cerita adalah bagaimana sebuah perusahaan berkompetisi di pasar lewat perjuangan, kerja keras, dan passion. Tersebutlah Miyazawa Koichi (dimainkan aktor watak kawakan Yakusho Kouji), presiden direktur sebuah perusahaan pembuat tabi, alas kaki tradisional Jepang. Miyazawa adalah generasi keempat, dan dia menyaksikan betapa perusahaan keluarga yang diwariskan turun-temurun itu makin menyusut skala produksinya karena perkembangan zaman. Demand untuk tabi tidak lagi sebanyak dulu. Perusahaan-perusahaan sejenis yang pernah menjadi rival mereka pun kolaps satu per satu. Jumlah pegawai perusahaan Miyazawa yang sempat ratusan, kini tinggal 20 orang saja. Kebanyakan adalah ibu-ibu yang sudah cukup berumur. Anak sulung laki-laki Miyazawa, Daichi (diperankan Yamazaki Kento), yang direkrut bantu-bantu di perusahaan, mulai diam-diam ikut wawancara kerja di sana-sini. They know the company won't last long if this continues.

Pertemuan dan diskusi Miyazawa dengan pegawai bank bernama Sakamoto Taro (Kazama Shunsuke) memicu lahirnya pemikiran: gimana kalau launching produk baru yang masih selaras dengan tabi, tapi bisa dipakai semua orang di masa kini? Gimana kalau bikin running shoes? Okay, running shoes it is.

Bapak dan anak jalan-jalan ke acara maraton untuk survei.

Enter Mogi Hiroto (yang diperankan kecengan bertampang a la mas-mas Karang Taruna saya, the goodest boy of the good boysTakeuchi Ryoma) to the picture. Ceritanya, Mogi adalah atlet pelari yang oleh perusahaan sponsornya cenderung taken for granted dan underappreciated. Pokoknya harus mengeluarkan hasil, nggak peduli gimana kesehatan dan kondisi kakinya. Sesama atlet pelari juga sering ngrasani dan ngegosipin Mogi yang emang ambisius banget latihannya gara-gara ditekan pihak sponsor. Kasihan, lah. Bisa dibilang satu-satunya pihak baik hati yang masih peduli well-being Mogi hanyalah sang pelatih, yang―tentu saja―tak berkutik di hadapan sponsor yang selalu menolak mendengarkan kata-katanya.

Can you guess what happen next? Yak, benar sekali. Kohazeya, perusahaan Miyazawa, menawarkan sampel sepatu lari produksi mereka kepada Mogi Hiroto untuk dipakai latihan. Lantas bagaimana penilaian Mogi sebagai atlet terhadap sepatu baru itu? Kira-kira berhasil nggak, Presiden Direktur Miyazawa menyelamatkan bisnisnya? Apa Daichi akan tetap bantu-bantu ayahnya, atau memilih bekerja di perusahaan lain jika lamarannya diterima? Hmm.

Drama Rikuou lebih bagus dari yang saya duga. Tadinya saya menyepelekan drama ini. Asli. Persis kayak betapa saya awalnya menganggap remeh Hanzawa Naoki, berpikir "Ah drama korporat mana asyiknya" tapi berujung maraton delapan episode dalam sekali duduk. Kualat. Langsung dipaksa menjilat ludah sendiri.

Human dynamics yang diperlihatkan dalam tiap episode Rikuou tampak tak dibuat-buat. Tidak pula terasa didramatisir berlebihan. Memang ada sih satu-dua adegan yang agak stretching, namun bisa diampuni karena nggak bertebaran tak terkendali. Relasi ayah-anak antara Miyazawa Koichi dan Daichi yang punya awkward distance benar-benar nggerus ati. Sosok Miyazawa sebagai pemimpin perusahaan di mata para pegawainya terbaca dengan jelas dari gestur, mimik bicara, dan interaksi mereka. Bagi saya yang lebih pilih nonton ulang Kapten Tsubasa sampai gumoh daripada nonton rekaman seminar bisnis, Rikuou is an unexpectedly delightful watch. And chest-tightening one. 

Baper banget nonton ini. Entah ya, tapi jika menyaksikan bapak-bapak umur 60-an tahun stres, mati-matian mencari cara menyelamatkan nafkah keluarganya dan mata pencaharian pegawai-pegawainya nggak bikin kalian trenyuh sama sekali, I don't know what does. Ditambah ada sebuah kalimat yang diucapkan Daichi, yang kira-kira terjemahan lokalnya: "Hidup tanpa seorang pun yang membutuhkan kita itu menyiksa, lho."

*Berguling-guling baper di lantai kamar.*

However, Rikuou is not without problems. Ada satu masalah cukup besar dari serial ini, yang ironisnya tidak akan kita temukan di novelnya. The problem exists because the TV series screenwriter deviates from the original script. Lmao. Jadi gini. Sepanjang percobaan membuat sepatu lari, ibu-ibu pengrajin di Kohazeya sering diperlihatkan lemburan. Bekerja hingga larut malam bareng-bareng karena perusahaan mereka berpacu dengan waktu. Perjuangan ini dilakukan demi berhasil mendapatkan pinjaman bank, sehingga Kohazeya perlu menunjukkan prototipe sepatu lari yang hendak dikembangkan. Miyazawa, suatu ketika, meminta maaf atas lembur beruntun ini dan berkata, "Tolong bersabar sedikit. Saya akan bayar setelah dana dari bank turun."

Ya oke gaji ditunda dulu. Nggak apa-apa. Toh freelancer juga tiap kirim invoice suka makan waktu sekian purnama baru bisa cair. Namun lantas dikisahkan bahwa pegawai-pegawai ini ikhlas tidak dibayar. Malam-malam lembur mereka anggap sebagai service overtime, yang nggak perlu ditagihkan ke perusahaan. Lah?? Padahal di skrip novelnya, seluruh pegawai Kohazeya tetap dibayar lunas lho oleh Miyazawa.

Mau glorifikasi overworking yaa? Hmm? Sementara karoshi―kematian karena kelelahan bekerja―adalah kasus yang sangat banyak terjadi di Jepang. Siapa nih yang sok ngide mengubah naskah, dari pegawai mendapat upah sebagaimana mestinya menjadi pemerasan tenaga tanpa bayaran semata-mata demi mengabdi pada perusahaan? Makan tuh pengabdian.

Miyazaki menemui pegawai-pegawainya yang mayoritas ibu-ibu.

That and this being said, I'd still recommend you to watch Rikuou. Serial ini ditayangkan di channel Waku Waku Japan dengan jadwal penayangan yang bisa dicek di sini, Apa? Kalian tidak berlangganan televisi kabel? Bahkan nggak punya TV? Wah sama dong seperti saya. Maka silakan tonton Rikuou di streaming platforms. Cek dulu ketersediaannya di katalog platform-platform legal (Viu, misalnya), baru hunting di situs-situs streaming ilegal kalau ternyata nggak ketemu.

Google is your best friend, pal

z. d. imama

Sunday, 5 November 2017

An obligatory review of Shinobi no Kuni

Jika kalian membaca atau mengikuti akun Twitter saya, barangkali bukan rahasia lagi bahwa saya adalah fangirl Arashi, sebuah boygroup―atau boyband; sumpah deh dua istilah itu hakikatnya sama aja jadi nggak usah dijadiin bahan berantem―asal Jepang di bawah naungan manajemen Johnny's Entertainment. Grup beranggotakan lima orang dengan ciri khas talenta berbeda-beda (serta level kekonyolan tak terhingga meski sudah berusia rata-rata 35 tahun) ini hampir tak pernah absen menduduki peringkat penjualan lagu tertinggi di Jepang. Padahal nggak ada gimmick salam-salaman, boleh kasih hadiah, foto bareng atau sejenisnya. Hebat ya. Saya aja sering nggak ngerti gimana ceritanya first week sales CD fisik bisa tembus delapan ratus ribu kopi.

Lho kok malah ngomongin Arashi?
Lanjut, lanjut.

Pertengahan tahun 2017 kemarin, leader Arashi, Ohno Satoshi, mendapat peran utama di film jidaigeki―berlatar belakang sejarah pra-Restorasi Meiji―dengan judul Shinobi no Kuni. Syukurlah, Japanese Film Festival (JFF) 2017 yang diselenggarakan sejak 2-7 November 2017 ternyata juga memboyong Shinobi no Kuni ke Indonesia. Allahu akbar. Puji Tuhan. Saya segera memesan tiketnya tanpa banyak mikir walau sebelumnya juga sudah beli tiket lain, yakni Yu wo Wakasu Hodo no Atsu Ai. Lagian cuma dua puluh ribu rupiah. Murah meriah. Nggak apa-apa, nggak apa-apa. Saya harus menunaikan ibadah religius ini. *Belai-belai dompet.*

Tanggal rilis di Jepang adalah 1 Juli 2017 lalu.

Alkisah, ketika penghujung sengokujidai (semacam 'civil war period') di Jepang dulu, pemerintahan Oda Nobunaga dengan ambisinya menguasai seluruh Jepang telah berhasil menaklukkan satu demi satu wilayah-wilayah negeri matahari terbit itu. Tapi ternyata ada sebuah wilayah yang bahkan dia sendiri tidak berani mengusik, yakni Provinsi Iga. Tanya kenapa? Sebab Iga merupakan kampung halaman ninja-ninja bayaran yang terkenal kuat, bengis, dan tak kenal ampun. Rupanya jiper juga Oda Nobunaga. Jadi yang diserang daerah-daerah yang menurut dia lebih lemah saja. Pokoknya jangan Iga, deh. Ibarat para penegak hukum Indonesia yang beraninya cuma nangkepin penyebar meme, tapi Setya Novanto nggak diproses dan malah KPK disuruh membatalkan status tersangkanya. Eh, gini bukan sih cara mainnya?

Letak posisi Provinsi Iga dalam peta (bagian warna cokelat muda)

Hiduplah Mumon (Ohno Satoshi), yang mengklaim diri sebagai sosok ninja terkuat se-provinsi Iga namun punya sisi lain di balik kehandalannya: pemalas. Jagoan tapi malesan. Wow. Sungguh life goal. Sebagaimana ninja-ninja lain di Iga yang hanya peduli soal meningkatkan skill dan uang imbalan, pertanyaan wajib yang terlontar dari mulut Mumon setiap kali mendapat misi baru adalah: "Siapa nih yang mau bayar?" Apalagi Mumon merasa dia perlu banyak duit untuk menarik perhatian sekaligus menyenangkan istrinya, Okuni (diperankan oleh Ishihara Satomi), yang menurut saya sifatnya rada-rada kayak sosialita khas zaman itu. "Nggak ada seorang pun yang kutakuti selain istriku," demikian kata Mumon. Sayangnya, a series of twists and turns of events menyebabkan Iga beserta ninja-ninjanya harus menghadapi serangan pasukan di bawah perintah Oda Nobukatsu (Chinen Yuri), anak lelaki Oda Nobunaga, yang berkuasa di daerah tetangga, Provinsi Ise. Mumon yang selama ini selalu cuek-cuek saja dengan nasib orang lain pun terbelit dilema. Apakah dia tetap tinggal dan bertarung? Atau memilih kabur secepat kilat menyelamatkan diri sendiri, pergi sejauhnya dari Iga?

Enakan opsi kedua, sih. Tapi...?

Oda Nobukatsu ikut terjun ke medan pertempuran.

This is a film created with a good, believable story as a strong foundation, presented with a good directing, and carried-out well with an ensemble of great casts. I'm not making those up just because I love Ohno Satoshi, no. Satu hal yang paling membahagiakan dan menyenangkan dari menyaksikan Shinobi no Kuni adalah jajaran aktor dan aktris yang mampu membawakan karakter-karakter mereka dengan baik. They sure can do their jobs. Even Chinen Yuri, the youngest one of the lineup did remarkable work. The unconventional, funny, yet endearing chemistry between Mumon and Okuni reached my heart effortlessly. Ishihara Satomi mampu memaksimalkan screen time dia yang terbilang sedikit jika dibandingkan durasi film, dan saya rasa ini menunjukkan kompetensi aktingnya. Coba seandainya tokoh Okuni diperankan *uhuk* Takei Emi atau *uhuk* Arimura Kasumi yang medioker itu. Ambyar, deh.

Shinobi no Kuni, dengan action scenes yang intens sekaligus lucu―karena sering tidak masuk akal alias over the top khas ninja-ninja dalam kisah fiksi―dan banyaknya adegan kekerasan, diberikan rating 21+ untuk penayangan di JFF 2017. The progressiveness of the story is excellent, rather gripping, and well-thought. Setengah bagian awal film sangat, sangat menghibur, dan menyerang penonton dengan peristiwa demi peristiwa secara bertubi-tubi yang membuat saya tidak terpikir untuk mengecek ponsel yang aslinya juga tidak membawa chat, pesan, apalagi missed calls dari siapa pun. Satu-satunya kekurangan Shinobi no Kuni yang terasa mencolok adalah tersendatnya aliran cerita di tengah-tengah film. Insiden seret ini sebetulnya cuma sebentar, sebab intensitasnya segera naik lagi, tapi bagi saya jadi menonjol karena boleh dibilang nggak ada hal lain yang bisa dipermasalahkan.

Ohno Satoshi shines as Mumon. Even brighter than Rihanna's diamond. Dipikir-pikir, saya kayaknya belum pernah melihat dia main film berantem-berantem and he amazingly pulls it out for this one. Ohno Satoshi why are you so full of surprises??? Adegan klimaks yang menampilkan Mumon berduel jarak dekat membuat saya hampir lupa bernapas saking tegangnya. Shinobi no Kuni is a fun 127 minutes ride packed-full with joyous moments that will pull enthusiastic cheers and laughter from its audiences, and yet at its serious scenes, you can feel something tugging inside your chest. I give this one a solid 8.8.

Panitia JFF 2017 agak rese karena hanya memberikan slot satu kali penayangan untuk Shinobi no Kuni, yakni tanggal 4 November 2017 jam 20:40. Wajar kalau studio penuh sesak. Full house. Sebagian besar isinya fangirl Arashi yang beli tiket lewat acara nonton bareng buatan fanbase-fanbase lokal pula. Semoga CGV bersedia mempertimbangkan untuk menayangkan film ini di luar event JFF, sebab saya saja masih kepengin nonton lagi. Sekaligus supaya yang belum sempat kebagian tiket, atau mendadak jadi berminat menyaksikan setelah baca review semenjana ini―boleh kan ge-er sedikit―juga bisa menikmati Shinobi no Kuni.

(UPDATE: Shinobi no Kuni ditayangkan secara reguler di sejumlah lokasi CGV dan Cinemaxx, mulai tanggal 8 November 2017. Silakan cek jam tayang lewat situs bioskop bersangkutan.)

Great words to live by, Mumon.

*P.S.: Semua screenshots diperoleh dari trailer Shinobi no Kuni. DVD dan Blu-Ray baru akan dirilis Februari 2018 nanti.

z. d. imama