Saturday, 28 January 2017

How to Manage Your Money... When You Have None


Beberapa waktu yang lalu sempat ngetren di kalangan blogger-blogger untuk bikin postingan mengenai cara mengatur keuangan ala-ala diri sendiri. Bahkan termasuk Mbak Kimi, yang cukup sering mampir ke blog semenjana milik saya ini (terima kasih ya, Mbak... *sungkem*). Terus terang saya sih kepengin juga bikin tulisan sejenis. Keren gitu rasanya, mengetikkan "Cara Mengatur Keuangan Versi Gue" di kolom judul postingan.

Cuma masalahnya: saya tidak punya uang.

Gimana mau ngatur duit kalau yang diatur aja nggak ada, kan? Hahaha. Untuk keperluan "foya-foya" alias hura-hura, yang belakangan lebih populer di kalangan anak-anak kuliahan (meski saya sudah tidak kuliah lagi) dengan istilah "hedon", alokasi dana per bulannya sekitar seratus hingga dua ratus ribu rupiah. Sudah. Lebih dari itu, saya mungkin harus menggoreng lemak-lemak di badan saya sendiri untuk dijadikan lauk makan. Bisa sih sebetulnya, dana khusus bergembira ria ini ditabung supaya... lebih aware akan kebutuhan jangka panjang. Tapi kayaknya saya bakal mati stres hanya dalam jangka waktu tiga atau empat bulan kemudian. Huks. #NangisDiPojokan

(Thank God I found the right gif)

Jadi marilah pada kesempatan kali ini biarkan saya membahas: dana jatah foya-foya ala kadarnya ini saya pakai buat apa setiap bulannya? Bodo amat. Namanya juga #KizminLyfe. Daripada bikin tulisan membosankan mengenai duit yang numpang lewat karena harga sewa kosan mahalnya amit-amit... lebih baik bersukaria dalam kebokekan. I'm such a pro in this matter (self-proclaimed, mind you), so here we go.

How to Spend Your Money When You Have Almost None... For Fun.

Buying books.

Saya suka sekali buku. Mungkin karena dulu semasa kecil (bahkan sampai sekarang pun) saya sulit bergaul, jadi teman-teman pertama saya adalah buku-buku di perpustakaan sekolah. Bahkan dulu ibu guru penjaga perpustakaan SD sampai pernah menanyakan apakah ada buku di perpus yang masih belum saya tamatkan, karena beliau bermaksud membelikan beberapa buku baru kalau semuanya ternyata telah saya lalap habis. Komik Serial Tokoh Dunia dulu jadi favorit. Saya juga suka membaca ensiklopedia (iya, yang besar dan tebel itu) karena banyak halaman berwarna dengan foto-foto, serta nama-nama Latin yang menurut saya sangat seru saat dilafalkan.

Beli buku bagi saya semacam sudah jadi kebutuhan... sekunder. Nggak bikin mati juga sih, tapi sudah cukup menyiksa kalau harus puasa berbelanja buku. Maka bisa dibilang semenjak punya penghasilan sendiri, setiap bulan saya minimal beli satu buku baru buat menuh-menuhin lemari dibaca kala senggang (yang biasanya sengaja disenggang-senggangin). Sampai detik ini, saya masih belum bisa beralih ke e-book. Lebih pilih buku fisik. Saya nggak kuat jika harus menatap layar lebih dari yang sudah-sudah...

Disclaimer: bukan foto milik saya.

Going to the cinema.

Bokek-bokek gini, menonton film di bioskop adalah salah satu hobi saya. Merepotkan, toh? Jadi ya solusinya adalah, saya harus pintar-pintar memilih film mana yang akan saya tonton dan mana yang harus diikhlaskan menunggu rilisan DVD-nya. Biasanya, kecuali ada teman yang berbaik hati mentraktir, saya maksimal hanya nonton satu film di bioskop setiap bulannya. Itu pun sengaja mencari tempat dengan harga tiket maksimal Rp50,000. Rekor terpanjang saya adalah setengah tahun tidak ke bioskop sama sekali. Udah kayak ngambil cuti akademis, hahaha...

Syukurlah, film-film yang belakangan saya tonton (pakai duit sendiri) cenderung memuaskan hati. Jadi nggak rugi lah. Apalagi kemarin saat nonton Dangal. Nggak biasanya saya keluar studio setengah gemetaran saking terlalu banyak emosi yang meluap. Sebelum Dangal, saya menyaksikan The Girl on the Train. Lumayan juga. Akting Emily Blunt yang meyakinkan benar-benar menjadi kunci film ini. Tapi terus terang saya belum memutuskan mau nonton apa lagi setelah Dangal. Mungkin Resident Evil: The Final Chapter, karena saya bias banget sama Mbak Milla Jovovich.

Tante Milla junjunganku.

Treating my belly.

Alias: makan enak. Jika rata-rata sekali makan cuma sepuluh sampai lima belas ribu rupiah, maka demi memanjakan perut dan lidah, alokasi dilonggarkan hingga.. lima puluh ribu rupiah, misalnya. Tetep standar jelata sih. Tapi toh saya sudah bahagia, jadi ya nggak apa-apa kan?

Taking a random trip.

Lho, jangan salah. Biarpun kere saya tetap suka jalan-jalan. Kegiatan yang cukup saya nikmati adalah naik TransJakarta, KRL Jabodetabek, Kopaja, atau transportasi umum lainnya tanpa terlalu memikirkan jurusan tujuan. Turun saja di sembarang tempat, lalu jalan-jalan berkeliling memperhatikan apa yang ada di area tersebut. Biasanya sih berujung dengan saya nyasar. Tapi tidak masalah. Toh sekarang selalu bisa OOTTR (Ojek Online To The Rescue). Kalau nggak nemu jalan pulang, pesan saja ojek. Selama masih di area Jabodetabek tetep bisa dianterin balik ke kosan kok sama abang ojek. Hehehe. Hehe. He.

Saya harap suatu saat standar bus di Indonesia bisa sebagus dan sebersih ini.

Jadi itulah variasi hal-hal yang biasa saya lakukan untuk membuang duit yang cuma sedikit memanfaatkan jatah dana bersenang-senang. Jika ada di antara kalian yang bersedia berbagi ide aktivitas lain, boleh dong dituliskan di kolom komentar. Saya akan menyambut dengan senang hati. Semakin banyak pilihan semakin seru, kan? Meski memang tidak mudah, mari bersama-sama kita berusaha menerapkan lirik lagu Koes Plus yang legendaris itu: "Hati senang walaupun tak punya uang".

z. d. imama

21 comments:

  1. Mungkin kalau saya, Buku diganti sama Game deh. Per bulan mungkin bisa 1-2 game, dan itu gak jarang habis beli game makanan sehari-sehari langsung cuma nasi-kecap-kerupuk doang 8)))

    Tapi sekarang lagi puasa dulu mengingat gak ada waktu buat ngegame lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini game konsol apa game HP??? (o__O)

      Delete
  2. Aku sekarang mengurangi beli buku fisik dan malah lebih tertarik beli ebook di Play Store. Murce soalnya. Tetep ye ngirit. Hihihi...

    Btw, kamu gak ada rencana buat beli ebook reader aja? Kan ebook reader gak ada backlight. Jangan Kindle, tapi. Kindle mah sok eksklusif. Aku pengen beli lagi. Nook aku sudah mulai cupu. Lah, kok malah curhat. =))

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku sudah nembung sama mas UK buat kita kredit beli ebook reader, barangkali yang punya blog mau ikutan kredit ebook reader juga ;)

      Delete
    2. Lhaaa padahal saya belum berminat sama buku elektronik karena tidak kuat menatap layar lebih dari yang sudah-sudah, malah dimotivasi beli e-book reader huhuhu ~

      Delete
    3. apaapaan ini? mas uk dibawabawa...

      eh, tapi masak ga kuat sama layar ebook reader? yakin itu ebook reader? janganjangan ebook reader-ebook reader-an? :v

      Delete
  3. Mm sy jg sering yg jalan2 random kayak yg opsi terakhir.
    Untuk alternativ lain, kpn2 bs coba yg biasa sy lakukan.
    Siapin duit sekian rp, trus jalan aja smp nemu orang tua atau siapapun yg udah km rasa layak dpt uang tsb, trus kasihkan aja tanpa alasan dan say hello bntr kalau smpt. Uang jg bs diganti dgn nasi bungkus dsb.
    Rasa happy nya gmn gtu.

    ReplyDelete
  4. Sangat menginspirasi sekali artikelnya . Kalau saya sih .. alternatif kalau udah gak punya uang . baca2x blog orang lain lalu isi kolom komentar . Soalnya beli buku aja udah gak mampu :(

    ReplyDelete
  5. Soal filmnya aku banget. Tapi lebih sering nunggu DVD rilis sih meski kalau dihitung lebih hemat nonton di bioskop aja pas weekdays. *yahboroslagideh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, halo Mbak Indi, terima kasih sudah bersedia mampir X'D #senengbanget

      Kalau saya soalnya nunggu rilisan DVDnya karena mau download, Mbak. Iya ini pengakuan dosa, bahwasanya saya masih mengonsumsi barang bajakan. Hehehe. Hehe. He.

      Delete
  6. klo bokek bukannya enakan beli minuman dingin.. bawa kerumah.. sambil tidur2an di bangku, nunggu besok dateng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas... hal itu sudah saya lakukan setiap hari semasa kuliah (T ^ T)

      Delete
  7. Dulu saya waktu mahasiswa, uang jatah bulanan dihemat-hemat buat beli buku sama buat ongkos mudik dua minggu sekali. Karena ga punya pacar, jadi ga perlu ke mall buat nonton dan makan *lah jadi curcol wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal saya nontonnya juga sendirian, Mas... #Kray

      Delete
  8. Coba ini deh, kalau dapet uang 20ribuan, jangan dipakai! Kumpulkan di dompet atau amplop tersendiri, di akhir tahun atau tengah tahun sila nikmati hasilnya... 😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sih lagi ngumpulin itu Mbak, duit koin seribuan di dalam kaleng. Hehehe. Hehe. He. Habis duitnya bentuknya lucu gitu kan, dan cakep... Mau nunggu sampai kalengnya penuh baru dibedah.

      Kalau 20ribuan saya nggak sanggup, Mbak. Iya, sebokek itu.

      Delete
    2. iyaa... Receh seribuan itu tsakeup... Yg uda lama pun masih tsakeup dan masih shining 😝

      Delete
  9. Streaming film drama Jepang dan Korea udah bikin hepi. Masak indomie sambil nonton drakor pas hujan plus selimutan.

    (anaknya gampang seneng)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi tapi tapi tapi Kak ini kan bukan postingan yang menjelaskan cara bikin hepi melainkan cara tetep foyafoya meskipun #SobatKizmin .__.

      Delete
  10. Boleh dong kapan kapan traktir mbaknya nonton.. Hehehee..

    ReplyDelete
  11. Saya idem untuk yang nomor tiga. Kalau di saya mah itu jadi nomor satu malah. :D Kayaknya tiga besar pengeluaran saya nomor satunya adalah makan. #malahcurcol.

    Kalau beli buku, sejak ada aplikasi iJak jadi bisa lebih irit. Lumayan bisa pinjam buku gratis, apalagi kalau buku yang cuma penasaran pingin baca tapi tak ingin dimiliki. Hehe.

    ReplyDelete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!